
Konon, nyadran merupakan tradisi yang diawali oleh Ratu Tribuana Tungga Dewi, sang Raja Majapahit. Saat itu dirinya ingin berdoa kepada ibunya yang bernama Ratu Gayatri dan roh nenek moyangnya yang diperabukan di Candi Jabo. Untuk itu disiapkan sesaji yang ditujukan kepada para dewa. Tradisi ini pun kemudian dilanjutkan oleh Prabu Hayam Wuruk. Konon pula, tradisi nyadran ini dilanjutkan oleh Wali Songo dengan tujuan untuk mendoakan para orang tua di alam baka. Bedanya, tak ada lagi sesaji yang diperuntukkan kepada para dewa, tetapi diganti dengan menyedekahkan sebagian kecil harta yang dimiliki untuk fakir miskin.
Selengkapnya di Kabare Magazine > Edisi Digital No. 145, Juli 2014
