468x60bannerad

Thursday, July 25, 2013

Menikmati Atmosfer Taman Fatahilah

Museum Sejarah Jakarta sebuah sosok bangunan yang akrab dipanggil dengan sebutan Museum Fatahillah, dan merupakn ikon tempat wisata di Kota Tua yang memiliki banyak cerita. Gedung yang dulunya di manfaatkan sebagai balai kota inilah yang mewariskan jejak-jejak perjalanan panjang lahirnya kota Jakarta.

Museum Sejarah Jakarta juga menjadi tempat favorit masyarakat yang mencoba mengisi waktu dengan berbagai kegiatan seru di depan halaman Museum Sejarah Jakarta yang sering disebut Taman Fatahillah Jakarta. Ini merupakan alun-alun kota Batavia pada masanya.

Kegiatan dan aktivitas yang ada di kota tua Jakarta berpusat di Taman Fatahillah yang lokasinya dikelilingi gedung-gedung tua dan dikawal oleh tiga museum; Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan Museum Wayang. Di salah satu sudut Taman Fatahillah pun, kita akan menemukan tempat istirahat yang unik dan klasik yaitu Cafe Batavia.

Menikmati atmosfer Taman Fatahillah yang terpancar di lokasi tersebut dapat membuat suasana yang ada menjadi asyik buat dinikmati bersama-sama. Kita dapat bercengkrama bersama rekan-rekan, duduk-duduk santai sambil berdiskusi membicarakan topik-topik ringan, atau berbicara ngalur-ngidul namun tetap fun.

Taman Fahillah hampir setiap akhir pekan selalu mengadakan pertunjukan seni budaya Indonesia yang dapat di lihat secara umum. Dan bagi pencinta sepeda, di Taman Fatahillah kita dapat menikmati sepeda dengan gaya orang-orang pada zaman dulu. Sepeda onthel yang dijejer di Taman Fatahillah meruapakan sarana yang dapat dinikmati oleh para pengunjunng Taman Fatahillah, tentunya ini semua disediakan untuk disewa.

Sepeda onthel yang merupakan sarana transportasi pada zaman kuno (baheula) ini seru bila kita jadikan sarana saat mengelilingi Kota Tua. Ada sensasi yang berbeda saat kita melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda onthel ini. Bicara mengenai tarif, sangat relatif murah. Dan semua itu dapat kita negosiasikan dengan para petugas. Apakah sepeda onthel tersebut akan kita pergunakan sendiri atau kita dibonceng oleh sang pemiliknya.

Menikmati keindahan Kota Jakarta dengan beragam keunikan dan cerita sejarahnya merupakan suatu perjalanan wisata yang sangat fenomena dan memberikan kesan tersendiri dalam kehidupan kita.

Karena hal ini selalu membuat diri kita selalu ingin mengulanginya kembali, bagai magnet yang tersusun dalam goresan dinding tua yang selalu memberikan kesan kepada mata yang melihatnya hingga hati ini menjadi jatuh cinta.

Sumber: Kabare Magazine edisi Juli 2013 (Teks: FA Herru; Foto: Albert)

Tuesday, July 23, 2013

Colenak, Khas Kota Kembang

Colenak, nama penganan khas Kota Bandung yang sudah akrab di kalangan penikmat kuliner itu terdiri dari tape bakar yang dibubuhi gula cair dan parutan kelapa.

Colenak sudah umum diketahui merupakan singkatan yaitu dicocol enak. Nama itu berasal dari pedagang yang pertama kali berjualan colenak, bernama Murdi.

Ia mulai berjualan pada zaman penjajahan Belanda, sekitar tahun 1930-an. Kini colenak dijual di berbagai tempat di Kota Bandung, mulai di emperan sampai hotel berbintang. Hebatnya, Murdi yang menggunakan nama colenak dan dipakai hingga kini, usahanya ternyata masih bertahan. Produknya diberi nama dagang Murdi Putra.

Nama awal penganan itu adalah peuyeum digulaan atau tape ditaburi gula. Konsumen lalu menganjurkan untuk mengganti namanya. Colenak pun kemudian muncul menyusul keinginan dari para konsumen itu.

Lokasi berjualan berupa rumah toko yang disitu terdapat pula bermacam penganan oleh-oleh khas Bandung. Menginginkan colenak di tempatnya yang asli, yaitu di tokonya di daerah Cicadas, Jl. Ahmad Yani 733, Kota Bandung.

Sumber: Kabare Magazine edisi Juli 2013 (Teks: FA Herru; Foto: Albert)

Sunday, July 21, 2013

Menyimak Rayuan Pulau Kelapa di Moscow

Duta Besar Berkuasa Penuh untuk Russia dan Belarose, Djauhari Oratmangun bersemangat ketika menceritakan betapa banyak orang-orang asli Rusia yang fasih menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa versi bahasa Rusia.

Memang, Republik Indonesia cukup dikenal di Uni Soviet sejak zaman Presiden Soekarno, saat Perang Dingin sedang memanas sampai era sekarang zaman keterbukaan dan modernitas melanda Russia.

Bahkan, di sana ada sebuah grup band asal Rusia yang bernama “Indonesia”. Kita dapat melihat aksi grup band rock ini di situs Youtube. Bang Djo, panggilan akrab pak dubes , berencana membawa grup band rock ini ke Yogyakarta pada bulan Oktober 2013 nanti.

Negeri Beruang Merah beribukota Moscow memilik daya pesona wisata yang tak habis dinikmati dalam waktu beberapa hari. Wisata modern berbaur dengan wisata heritage peninggalan zaman Tsar, tampak sangat indah.

Lapangan Merah adalah salah satu tempat favorit untuk dikunjungi. Di seberangnya terdapat gedung mal modern yang menyediakan barang-barang branded. Bagi penggemar “klithikan”, bisa berkunjung ke pasar Ismailova, dekat mesum Vodka.

Di pasar itu, terdapat berbagai barang peninggalan zaman kekaisaran, barang-barang kerajaan kualitas terbaik, lukisan kuno, peninggalan perang dunia I dan II, peninggalan gereja orthodoks dan berbagai barang bekas sehari-hari. Mencari topi baja yang berlubang peluru? Di sinilah tempatnya.

Kompleks belanja suvenir khas Russia ada di Arbath. Di sini ada beberapa toko yang penjaganya mampu berbahasa Indonesia meski hanya sedikit-sedikit.

Rombongan kami yang terdiri dari Moetaryanto, Uti MP, Vic Halim, Wahyuningrum, dan saya, sangat bersyukur dijamu oleh Bang Djo di Yar Resto, salah satu restoran tertua di dunia. Resto itu sudah buka sejak tahun 1826. Konon, resto itu dulu digunakan para kaisar untuk menjamu tamu-tamu penting kerajaan.

Di Yar Resto ini, selain sajian menu Eropa terbaik, juga menampilkan musik live dengan lagu-lagu Rusia dan lagu pop barat umumnya. Kejutan setelah makan malam adalah pertunjukan kabaret yang gegap gempita menampilkan atraksi panggung yang sangat atraktif.

Ketika kita memasuki elevator, turun sepanjang 150 meter, di Stasiun Kereta Api Metro, di sinilah decak kagum memuncak. Betapa besar, penuh ukiran, patung, dan lukisan berkelas mewarnai semua sudut koridor stasiun. Simbol peradaban seni tingkat tinggi.

Selain Red Square, Moscow memiliki tujuan wisata menarik, antara lain Kremlin Walls and Tower, Great Kremlin Palace, Patung Wanita Pekerja, Ghorky House, Tsar Bells and Tsar Cannon, Cathedral Tower, Bolshoy Kamenny Bridge (Greater Stone Bridge) dan masih banyak lagi.

Ketika Anda sedang berbelanja atau sedang berada di tempat keramaian, cobalah untuk bersiul, maka pasti akan ada orang yang memperingatkan! Bagi orang Russia, bersiul adalah pamali. Mitos mereka, bersiul akan membuat rezeki terbang melayang! Salah satu kesamaan adat budaya lokal yang hampir mirip dengan masyarakat Indonesia.

Russia sekarang bukan lagi negeri yang tertutup. Russia telah berubah terbuka, modern dan termasuk tiga negara besar dunia yang memiliki kekuatan kapital besar.

Maka kisah cinta warga Russia pun berubah menjadi lebih romatis, ekspresif, dan mendunia, seperti dilantunkan oleh Scorpion; follow the Moskwa, down to Ghorky Park … listening to the wind of change.

Sumber: Kabare Magazine edisi Juli 2013 (Teks: Indro Kimpling Suseno).

Friday, July 19, 2013

The Sunan Hotel, Solusi MICE di Kota Solo

Maraknya aktivitas MICE (meeting, incentive, convention dan exhibition) di Kota Solo sangat dipahami oleh The Sunan Hotel Solo. Hotel berbintang empat yang berlokasi di Jl. A Yani 40, Solo, ini berhasil menyabet penghargaan sebagai The Best Hotel & Service Excellent of the Year dalam ajang “Indonesian Best of The Best Award 2012” di Yogyakarta, 30 Maret 2012.

Sebelumnya, hotel ini juga berhasil meraih penghargaan sebagai Top Favorite Hotel in Solo of The Year yang diserahkan dalam ajang “30 Top Leader Business & Companies” di Jakarta 17 Februari 2012, dan The Best Hotel in Service Excellent of The Year dalam ajang “Tourism Award Winner 2011-2012” pada bulan Desember 2011 lalu. Tahun 2013, The Sunan Hotel Solo juga tampil sebagai The Most Favourite Hotel in Solo.

The Sunan Hotel Solo memiliki postioning sebagai hotel convention and entertainment. Hotel ini memiliki pengalaman untuk menangani tamu-tamu kehormatan, seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mantan Presiden Megawati, Mantan Presiden Abdurrahman Wahid, para duta besar negara sahabat, serta para menteri.

Beragam agenda acara internasional dan nasional juga sukses digelar di The Sunan Hotel Solo, seperti agenda bersejarah Kongres Luar Biasa PSSI, 9 Juli 2011; Rakernas V Ikatan Bidan Indonesia, 10-16 Oktober 2011; Munas ASITA yang digelar 21-23 Oktober 2011.

Sedangkan untuk agenda MICE dengan skala internasional yang pernah terselenggara, antara lain Euro Asia International Conference & Expo World Heritages Cities (2008), ASEAN Workshop on Cultural Heritage (2010), The 3rd Asia Pacific Ministerial Conference on Housing And Urban Development (2010), dan sebagainya.

Pada tahun 2011, The Sunan menjadi pilihan lokasi penyelenggaraan acara Asian Parliamentary Assembly (APA) Conference on Principles of Friendship and Cooperation in Asia and Ad Hoc Committee Meeting on Protection of The Rights of Migrant Worker in Asia, 28-29 September 2011, dan The 3rd ASEAN Conference on Traditional Medicine in ASEAN Countries, 31 Oktober-2 November 2011.

The Sunan Hotel Solo menyediakan sebanyak 203 kamar dengan berbagai jenis tipe, mulai dari deluxe room sampai dengan presidential suite. Khusus bagi para tamu yang ingin menggunakan fasilitas hot spot, tersedia fasilitas hot spot secara cuma-cuma di lobi, restoran, executive business room, junior suite, suite dan presidential suite.

Hotel berbintang empat ini juga dilengkapi fasilitas pendukung lainnya, seperti kolam renang semi olympic, music room, Narendra-Indo Asia Dining, Royal Espresso and Tea Lounge, Ohsyou Ramen, The Embassy Wine Lounge & Shop, salon, fitness center and spa, dan karaoke.

Pada bulan Mei 2013, The Sunan Hotel Solo membuka Chinese restaurant bernama Imperial Taste Modern Oriental Cuisine, bertempat di Mezzanine.

Tidak hanya Soemaryo Grand Ballroom yang mampu menampung 2.500 peserta meeting, The Sunan Hotel Solo masih memiliki ruang pertemuan lainnya dengan kapasitas yang berbeda-beda, seperti Syailendra Ballroom, Wiryowidagdo Ballroom dengan kapasitas masing-masing 500 orang, Triwindu Meeting Room, Kono Room, Executive Meeting Room dan Private Dining Room yang biasa digunakan untuk meeting terbatas.

Kelengkapan fasilitas MICE hotel ini juga didukung dengan hadirnya bussines center. Layanan ini meliputi fotocopy, internet, surat menyurat, dan buka selama 24 jam.

Beragam kegiatan hiburan juga sering diselenggarakan di The Sunan Hotel Solo untuk menguatkan positioning sebagai hotel entertainment di kota Solo.

Bulan Februari 2013, The Sunan Hotel Solo mengusung KLA Project manggung di Grand Ballroom dan awal Juli, grup band papan atas SLANK Feat Raisa dan Dira Sugandi menghibur masyarakat Solo.

Sumber: Kabare Magazine edisi Juli 2013.

Tuesday, July 16, 2013

Tas Lokal Tembus Pasar Global

Siapa bilang kita harus pergi ke luar negeri hanya untuk membeli sebuah tas dengan brand kelas dunia?

Di Indonesia, kita banyak memiliki brand-brand yang sudah mendunia, padahal produksi anak bangsa. Ya, menembus pasar global sudah pasti menjadi impian setiap produsen lokal, namun tentu jalan yang ditempuh tentu tak semudah memimpikannya.

Memang belum terlalu banyak produk anak bangsa yang berhasil menembus pasar dunia. Diantara sekian banyak brand tas, hanya ada beberapa yang sudah mendunia. Sebut saja brand Bagteria, Sabbatha, Mimsy, hingga Webe, semua merupakan produk fashion, dalam hal ini tas, lokal yang telah diekspor ke berbagai negara.

Salah satu yang menjadi incaran para selebritis Hollywood hingga sosialita dunia adalah tas berlabel Bagteria buatan Nancy Go. Brand yang unik, karena oleh sang pemilik, diharapkan tas buatannya dapat mewabah seperti bakteri.

Tas karya Nancy memang berbeda dan sangat berkelas, hingga tak heran jika berhasil menembus pasar kelas atas dunia. Harga tas yang eksklusif antara 1 juta hingga puluhan juta rupiah.

Kulitas produk tas tersebut bahkan lebih dikenal oleh para selebriti dan sosialita dunia ketimbang di dalam negeri. Sebut saja Paris Hilton, Emma Bunton hingga Zara Philips yang merupakan cucu dari Ratu Elizabeth juga memakai produk Bagteria.

Ada kualitas tentu ada harga. Harga tas bagteria yang mahal karena menggunakan bahan yang tak sembarangan. Selain teknik sulam, renda dan payet yang dijahit tangan, pernak-perniknya pun unik dan eksklusif.

Nancy menggunakan kristal Swarovski, sterling silver, gold platted, kulit ikan dari Islandia, kulit burung onta hingga gading gajah purba. Kini produk Nancy bahkan sudah disejajarkan dengan brand dunia seperti Luis Vuitton, Prada, Channel dan lainnya.

Saat ini, lebih dari 30 negara seperti Hongkong, Emirat Arab, hingga negara-negara Eropa seperti Prancis, sampai Amerika Serikat menjual produk Bagteria.

Brand kedua yang istimewa adalah Sabbatha. Brand yang diambil dari nama sang pemilik yakni Sabbatha Rahzuardi Maya Dwianto ini sudah sangat mendunia.

Menurut Sabbatha, konsep awalnya adalah untuk memperkenalkan kekayaan Indonesia dengan kerajinan tangannya yang dia gali kembali untuk diperkenalkan ke seluruh individu baik nasional maupun internasional bahwa Indonesia juga bisa berkarya di dunia mode aksesoris.

Tas karya Sabbatha yang dibandrol mulai harga 1,5 juta hingga puluhan juta ini menggunakan materi kulit yang dipadukan dengan berbagai materi seperti batu-batuan, ukiran perak dan lainnya. Dengan itu semua, Sabbatha benar-benar mampu menonjolkan kekayaan alam Indonesia.

“Sebenarnya saya bisa mengatakan bahwa bahan-bahan yang saya gunakan 100% Made in Indonesia. Karena apakah bahan tersebut dibeli atau saya design sendiri dan dipesan dari pengrajin yang ada di Bali khususnya. Semua dari Indonesia,” ujar Sabbatha kepada Kabare.

Sebagai desainer, Sabbatha lebih suka jika dijuluki sebagai seorang seniman, karena frequency designingnya tidak tentu. Sabbatha mengatakan bahwa dirinya setiap tahunnya bisa mengeluarkan lebih dari 500 pieces handbags, bags atau luggage dan aksesoris mode.

Tas karya Sabbatha rupanya sangat diminati konsumen bahkan mampu menarik bahkan mampu menarik perhatian sosialita dunia seperti Kathy Holmes, Julia Robert, Victoria Avril (aktris Spanyol), Paris Hilton dan beberapa First Lady dari beberapa negara asing.

Untuk Indonesia, sosialita yang menggunakan karya Sabbatha antara lain Christine Hakim, Manohara, Melly Guslow, Cornelia Agatha, Ashari Sisters, Anggun C.Sasmi, Denada, Nadya Hutagalung dan lainnya.

Kini tas karya Sabbatha selain dipasarkan di Bali, kita juga dapat menemukan karyanya di beberapa negara seperti Mumbai, Hawai, Roma, Amsterdam, Milan, Cannes, London, Cape Town Afrika Selatan, Moscow, Korea dan lainnya.

Kali ini tas berlabel Mimsy karya Christyna Theosa yang juga sudah dilirik pasar dunia. Dengan desain yang elegan, unik dan classy tanpa melupakan sisi seksi dan funky.

Christyna membuat clutch dengan bahan terbaik seperti kulit Italia, kain lace Jepang dan Perancis, pita sutra, beludru hingga kristal Swarovski yang dilapisi dengan bahan suede Italia dan Satin. Tas-tas buatannya ini berkisar harga Rp. 1,5 juta hingga Rp. 7 juta.

Awalnya Christyna memasarkan koleksinya door to door, sampai akhirnya memutuskan memilih halur konsinyasi dengan toko tas dan pakaian di daerah Main Street, Santa Monica. Lingkungan tersebut merupakan daerah perkantoran seniman film Hollywood dan kawasan studio film.

Kini tas Mimsy yang bergaya edgy sangat diminati dan penjualannya pun terus melesat. Kini Christyna telah bekerjasama dengan label internasional, seperti Bebe dan Urban Outfitters.

Dan kini fashion bag enceng gondok karya Wenny Sulistyowati Hartono mulai banyak dicari penggemar fashion bag dari Amerika hingga Eropa.

Memang tak banyak yang menyangka jika bahan tas berlabel WeBe tersebut berasal dari tanaman yang seringkali dianggap tak bermanfaat bagi banyak orang. Berawal dari hobi membuat cinderamata, Wenny mengubah enceng gondok menjadi tas yang sangat diapresiasi para pencinta fashion bag.

Banyaknya permintaan terhadap tas anyaman enceng gondok tersebut membuat Wenny membuka galeri WeBe sekaligus tempat memproduksi produk fashion bags ini di Semarang.

Di galeri tersebut, berbagai warna dan model tas anyaman tersebut dipajang. Bahkan proses pembuatannya pun dapat dilihat oleh para pembeli.

Karena sedang naik daun, untuk mendapatkan tas ini, para pelanggan harus memesan terlebih dahulu dan rela menunggu selama berbulan-bulan untuk mendapatkan WeBe Bags ini karena proses pembuatannya dilakukan murni oleh tangan.

Sumber: Kabare Magazine edisi Juli 2013 (Teks: Della Yuanita; Foto: Albert, Istimewa)

Tuesday, July 9, 2013

Abhayagiri Restaurant: Sensasi Bersantap dalam Kedamaian

Bukankah ini yang dikatakan romantisme bersantap, di kala dihadapan Anda terhidang menu-menu lezat serta moleknya tubuh gunung dan candi-candi yang tampak begitu indah dari ketinggian?

Jika iya, itu berarti Anda musti mencoba datang ke restoran ini. Abhayagiri Restaurant menghadirkan suasana itu, yang pastinya jarang sekali Anda rasakan sebelumnya ketika Anda menghelat acara bersantap di seputaran Kota Yogyakarta.

Kota gudeg itu memang terkenal memiliki objek-objek sangat menarik, seperti gunung Merapi dan beberapa candi-candi yang rupawan. Di Abhayagiri Restaurant ini, apa yang Anda butuhkan, Anda akan mendapatkannya.

Tidaklah sulit dan merepotkan bila Anda terpantik ingin berkunjung ke sana. Abhayagiri Restaurant berada lebih kurang 30 kilometer ke timur dari pusat Kota Yogyakarta, dan tak jauh dari kompleks Candi Prambanan, apalagi dengan kompleks Candi Ratu Boko. Restoran ini berada di atas Bukit Boko, sama seperti kompleks Candi Ratu Boko.

Abhayagiri Restaurant menyatu dengan kompleks Sumberwatu Heritage, sebuah resort baru di Yogyakarta yang menawarkan villa dan restoran. Tentu, bukan tanpa alasan sang pemilik mendirikan sebuah resort elegan di atas Bukit Boko.

Di bukit itulah pada abad ke-8 lalu telah dibangun Istana Ratu Boko oleh Rakai Panangkaran. Sebuah istana megah di zaman Mataram Kuno yang pada awalnya bernama Abhayagiri Vihara, yang berarti biara di bukit yang penuh kedamaian. Istana batu ini dulu menjadi tempat menyepi dan memfokuskan diri dalam kehidupan spiritual.

Ketenangan batinlah yang ingin dicapai di tempat itu. Istana Ratu Boko memang sebuah kompleks candi Hindhu paling indah dan megah di atas Bukit Boko. Namun tak hanya itu, di bukit itu juga terdapat lima candi Hindhu – Budha lainnya, yaitu Candi Banyunibo, Barong, Ijo, Sojiwan, dan Archa Ganesha, yang sewaktu-waktu dapat pula Anda kunjungi.

Jadi jelas, selain panorama alam yang menakjubkan, bukit itulah suatu tempat dimana ketenangan dan kedamaian menjadi atmosfernya. Anda tentu juga tak sulit menebak, mengapa Sumberwatu Heritage Resort dibangun di sana. Sehingga pastinya, bagi Anda yang merindukan suasana ketenangan, Sumberwatu Heritage dapat menjadi tempat tepat memperolehnya.

Sumberwatu Heritage dikonsep pula berdasar pada situs-situs yang ada di sekitarnya. Satu kompleks resort seluas 2,5 hektare di punggung bukit, dikelilingi pagar tinggi yang tersusun dari batu-batu andesit. Di dalamnya terdapat sebentuk bangunan rumah limasan besar, cukup elegan dengan tatanan interior yang amat Jawa berpadu modern. Itulah Abhayagiri Restaurant.

Di sebelah Abhayagiri Restaurant, berdiri pula bangunan villa yang dikonsep sama; Jawa modern. Dan sebagai tempat pertemuan, Sumberwatu Heritage juga menyediakan pendopo joglo yang diadopsi dari bekas rumah tua berusia 400 tahun, dilengkapi dengan lampu tua yang dulu pernah digunakan Presiden Soekarno sebagai pengindahnya.

Di ketiga bangunan itu, tata interiornya pun dilengkapi dengan konsep-konsep motif batik, seperti pada lantainya, yang menambah cantik suasananya.

Sedangkan bebatuan andesit tetap tampak mendominasi, menutupi banyak bagian-bagian dinding. Terutama pada bangunan lobi yang sangat mirip dengan bentuk Gapura Paduraksa, regol atau pintu masuk Candi Ratu Boko. Nuansa candi dan kultur Jawa dengan sentuhan modern seperti itulah yang ingin diciptakan di Sumberwatu Heritage Resort.

Namun tak hanya itu. Seperti disebut di awal, resort ini juga menawarkan panorama menakjubkan yang dapat menambah jiwa Anda nyaman bersentuhan dengan ketenangan dan kedamaian. Dan Abhayagiri Restaurat merupakan satu tempat paling strategis untuk menyaksikan lukisan Sang Pencipta itu.

Di situlah Anda dapat menyaksikan dengan jelas kemolekan tubuh utuh Gunung Merapi yang tampak segaris lurus dengan Candi Prambanan dan Candi Sojiwan, serta lembaran lebar panorama alam di sekelilingnya.

Lukisan alam yang tak bertara itu, tentunya juga menjadi satu objek yang dapat menambah selera bersantap Anda. Dengan bersantap di atas balkon beranda restoran, kesan romantis akan segera mengambang menjadi nuansanya.

Kenyamanan bersantap di Abhayagiri Restaurant pun tersaji dari beragam menu-menu yang ditawarkan. Dilayani secara istimewa oleh para stafnya, Anda dapat memesan bermacam hidangan yang semuanya berbahan dasar lokal namun bergaya internasional tanpa meninggalkan citarasa kelokalannya.

Dengan keahlian para juru masaknya, bahan-bahan yang didapat dari kampung-kampung sekitar akan diramu dengan teknik dan cara memasak internasional, sehingga tercipta hidangan-hidangan lezat dan menarik dalam setiap porsinya.

Beberapa hidangannya, seperti Abhayagiri Duck Special. Bahan dasarnya berupa itik atau dalam bahasa Jawa enthok yang diolah slow cooking dengan api kecil, akan membuat dagingnya empuk. Disajikan dengan nasi kuning yang dibentuk steak ditambah lumeran saus, menu yang satu ini amat lezat disantap.

Ada pula Hand Roasted Salmon. Ikan salmon roasted yang disajikan dengan olahan jamur tiram, salad dan saus anggur. Terasa gurih asin di lidah, dan ada sensasi buah yang mendampingi rasa itu.

Abhayagiri Chicken Steak pun ada, dan cukup memberi nuansa hidangan internasional tanpa menyisihkan rasa bahan-bahan lokal. Disajikan dengan singkong yang dihaluskan atau mass cassava, dibubuhi saus teriyaki dan garden salad, sungguh menggoda lidah.

Keahlian koki Abhayagiri Restaurant dalam memadukan bahan-bahan lokal dengan cita rasa internasional akan menghasilkan makanan yang tidak saja nikmat namun juga terlihat menarik dalam penyajiannya.

Abhayagiri Restaurant memang tempat tepat bagi Anda untuk bersantap dengan suasana damai, tenang, dan nyaman.

Sumber: Kabare Magazine edisi Juli 2013 (Teks: FA Herru; Foto: Budi Prast).
Copyright © Mooi Indie - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.