Mulai mengguritanya produsen cokelat di tanah air memang menjadi kabar baik bagi para chocoholic atau para penggemar cokelat. Daerah seperti Garut atau Yogyakarta disebut-sebut sebagai wilayah yang turut dalam hiruk pikuk perkembangan bisnis hilir kakao, yaitu industri makanan cokelat. Dalam dua-tiga tahun terakhir ini, pertumbuhan industri cokelat di dua daerah itu seolah memicu sebuah tren baru percokelatan Indonesia.
Lihat saja, dalam perjalanannya, pertumbuhan bisnis sejenis juga mulai menggeliat di daerah lain. Meniru kesuksesan Garut dan Yogyakarta, industri kecil cokelat di daerah lain seperti Banyumas, Makassar, Palu dan lainnya, juga sudah mulai terlihat. Inilah fakta baru, di mana perkembangan industri hilir seolah menjadi satu peristiwa yang keluar dari pakem tentang cokelat selama ini.
Memang, dalam sejarahnya, budaya konsumsi cokelat belum mengakar luas pada masyarakat Indonesia seperti di negara-negara lain, semisal Swiss, Belgia, Prancis, atau Amerika Serikat, meskipun pada kenyataannya Indonesia negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia. Tingkat konsumsi cokelat di Indonesia sangat rendah di banding Eropa. Indonesia hanya makan cokelat 0.7 ons per orang per tahun. Sedangkan di Eropa tingkat konsumsi cokelat 5 kilogram per orang per tahun.