468x60bannerad

Wednesday, April 9, 2014

Geliat Cokelat di Indonesia

Mulai mengguritanya produsen cokelat di tanah air memang menjadi kabar baik bagi para chocoholic atau para penggemar cokelat. Daerah seperti Garut atau Yogyakarta disebut-sebut sebagai wilayah yang turut dalam hiruk pikuk perkembangan bisnis hilir kakao, yaitu industri makanan cokelat. Dalam dua-tiga tahun terakhir ini, pertumbuhan industri cokelat di dua daerah itu seolah memicu sebuah tren baru percokelatan Indonesia.

Lihat saja, dalam perjalanannya, pertumbuhan bisnis sejenis juga mulai menggeliat di daerah lain. Meniru kesuksesan Garut dan Yogyakarta, industri kecil cokelat di daerah lain seperti Banyumas, Makassar, Palu dan lainnya, juga sudah mulai terlihat. Inilah fakta baru, di mana perkembangan industri hilir seolah menjadi satu peristiwa yang keluar dari pakem tentang cokelat selama ini.

Memang, dalam sejarahnya, budaya konsumsi cokelat belum mengakar luas pada masyarakat Indonesia seperti di negara-negara lain, semisal Swiss, Belgia, Prancis, atau Amerika Serikat, meskipun pada kenyataannya Indonesia negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia. Tingkat konsumsi cokelat di Indonesia sangat rendah di banding Eropa. Indonesia hanya makan cokelat 0.7 ons per orang per tahun. Sedangkan di Eropa tingkat konsumsi cokelat 5 kilogram per orang per tahun.

Masyarakat Swiss adalah pengonsumsi cokelat terbanyak di dunia, dan mereka punya sejarah panjang dalam produksi cokelat. Cokelat hasil usaha kecil rumahan pun terkenal sangat nikmat. Seperti di Zurich, yang memang terkenal dengan cokelatnya. Bahkan, udara di sana pun beraroma cokelat. Padahal kita tahu, Swiss hanyalah negara pengimpor kakao. Sebaliknya, masyarakat Indonesia selama ini belum seutuhnya memiliki awareness terhadap kakao dan cokelat. Bahkan cokelat dianggap sebagai infiltrasi budaya barat ke Indonesia. Sedikit atau banyak, anggapan semacam inilah salah satu sebabnya yang menjadi batu sandungan mengapa cokelat baru sekarang mulai diupayakan menjadi industri primadona di masyarakat kita.

Namun demikian, adanya pengusaha-pengusaha cokelat yang belakangan tumbuh di beberapa daerah di Indonesia saat ini merupakan kabar yang menggembirakan. Persepsi terhadap cokelat lambat laun pun berubah. Lidah masyarakat pun sudah terbiasa dengan cokelat, meskipun berasal dari produsen luar negeri. Penggemarnya juga bisa dikatakan tak lagi sedikit. Masyarakat Indonesia yang ingin berusaha di dunia percokelatan tidak perlu gentar untuk memulainya sekarang. Dan mungkin saja tidak membutuhkan waktu lama untuk membudayakan cokelat di negeri ini serta menjadikannya sebagai makanan rakyat.

Pemerintah pun belakangan mulai mengupayakan. Dikutip dari lansiran detikfinance, pada 1 April 2010 lalu, pemerintah mengeluarkan kebijakan Bea Keluar terhadap ekspor biji kakao melalui Peraturan Menteri Keuangan No 67/PMK.011/2010. Sejak itu, industri kakao menggeliat. Volume ekspor biji kakao mentah lantas menurun, sementara ekspor kakao olahan terus mengalami peningkatan dengan ditandai bertambahnya pabrik-pabrik pengolahan baru. Memang, dulu Indonesia hanya dapat mengekspor biji kakao mentah saja, dan belum banyak menghasilkan kakao olahan.

Kebijakan pemerintah ini telah memberikan dorongan kepada industri kakao dan cokelat di Indonesia. Pabrik-pabrik pengolahan kakao lantas juga semakin bermunculan. Kemunculan pabrik-pabrik inilah yang kemudian mendorong industri hilir makanan dan minuman berbasis cokelat untuk melakukan ekspansi, menyerap tenaga kerja, adanya multiplier effect terhadap industri pendukung, seperti industri pengemasan (packaging), transportasi, perbengkelan, perbankan dan sektor lainnya.

Di Yogyakarta sendiri, seperti telah diutarakan di awal, produsen-produsen cokelat siap konsumsi telah bertumbuh demikian cepat dalam dua-tiga tahun belakangan ini. Pun demikian di daerah-daerah lainnya. Perkembangan industri kecil cokelat di kota yang kental dengan unsur budayanya itu tampaknya juga telah menjadi tren bisnis baru. Uniknya, kemunculan cokelat-cokelat dari Yogyakarta itu tak lepas pula dari unsur budaya yang lantas membuatnya menjadi khas. Nuansa budaya Jawa sangat kental mendominasi kemasan cokelat khas Yogyakarta tersebut.

Tak hanya itu uniknya. Sebagian dari mereka juga berani mengeksplorasi varian rasa, seperti rasa pedas cabai, rasa pisang dan buah-buahan lainnya. Cara mereka memasarkannya pun bermacam-macam. Hampir semua produsen cokelat di kota itu juga menawarkannya kepada perusahaan-perusahaan besar seperti bank sebagai cokelat suvenir bagi para nasabah. Mereka juga siap melayani pemesan perorangan yang disajikan dalam bermacam gaya untuk sekadar sebagai kado, tanda kasih, atau ucapan selamat.

Di samping itu, cokelat-cokelat khas Yogyakarta ini juga dibuat untuk menciptakan tren baru bahwa cokelat saat ini bisa menjelma menjadi produk oleh-oleh khas. Para wisatawan khususnya chocoholic yang melancong ke Yogyakarta, seperti dibuatkan ritual baru bahwa selain bakpia yang sudah sangat khas dan melegenda, mereka juga dapat memilih-milih cokelat-cokelat khas Yogyakarta di toko oleh-oleh atau di gerainya masing-masing dengan kualitas yang beragam.

Tren baru oleh-oleh ini memang telah memberikan warna tersendiri pada Kota Budaya tersebut. Sama halnya di Yogyakarta, di daerah lain pun demikian, memproduksi cokelat sebagai buah tangan khas dari masing-masing daerah itu. Dengan adanya perkembangan industri cokelat seperti ini, rasanya memang sudah saatnya apabila cokelat bisa menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia. Meski tidak mudah, namun upaya tersebut sudah sepantasnya dikerjakan.

FA Herru; Foto: Budi Prast
Copyright © Mooi Indie - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.