468x60bannerad

Friday, January 31, 2014

Gebyar: Black Zipper by Irma Devina



Sesuatu yang unik seringkali berasal dari ide-ide kreatif yang muncul tanpa sengaja. Didasari oleh hal tersebut, sang designer ingin menunjukan bahwa elemen zipper yang digunakan untuk membuka-tutup busana dress, dapat menjadi hiasan yang bertampilan unik.

Konsep Black-Zipper muncul elegan dan terolah apik dalam simple dress ber¬-cutting terrain, & long-train, serta berbahan black-velvet emboss. Penambahan finishing berupa zipper, menjadi aksen unik yang mempertegas keseluruhan tampilan busana kali ini.
Zipper yang ditata demikian unik seolah memperlihatkan sisi liar namun simple sekaligus feminim yang dikemas dalam tampilan tube-dress cocktail.

Sisi edgy dalam konsep black-zipper juga menjadi pilihan sang designer pada padu-padan busana kali ini. Dengan memadukan pencil-skirt dan short-tube hitam ber-finishing zipper, membuatnya terlihat simple dan unik.



Kesan androginy, terefleksikan dalam padu padan busana kali ini. Ditambah pemakaian zipper yang ditata meliuk unik, seolah sulur yang merambat menjadi hiasan yang mempertegas siluet sensualitas sang pemakainya.



Glamour sekaligus sensual terangkum harmonis dalam busana berbahan black velvet emboss ini. Namun memiliki keunikan tersendiri saat adanya zipper yang ditata sebagai aksen layaknya sulur yang memberi sentuhan feminim pada keseluruhannya.



Cocktail dress bernuansa hitam terlihat anggun dalam sabrina-cutting dengan paduan textile transparan pada bagian shoulder ditambah dengan aksen zipper yang ditata layaknya sulur yang mengalungi pemakainya, seolah pengganti aksesoris, menjadi sentuhan unik buah kreatifitas dalam koleksi Black-Zipper kali ini.

Teks: Tyas Santhi Fatmasari

Profil Desainer:

Irma Devina, seorang designer muda yang lakir di Semarang, 14 Desember 1984, menapaki karirnya di dunia fesyen ketika mengambil pendidikan singkat di sekolah fashion Susan Budiharjo, Semarang pada tahun 2008. Dengan berlatar belakang ketertarikannya pada seni, menyukai sesuatu yang unik, dan keprihatinannya ketika ia jarang menemukan size yang ekstra small, membuatnya mau tidak mau harus belajar membuat baju sendiri. Designer muda yang akrab dipanggil Irma ini, mengambil kuliah di Jurusan Teknik Industri di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Namun ternyata hal tersebut tidak membuat jiwa fesyennya terhenti, setelah lulus kuliah, kembali ia mempelajari teknik pola atau cutting kuno di sekolah fesyen, Marie.

Pemilik brand ”Óphium” ini memiliki, style design yang simple, kadang edgy, kadang feminin, dan kecenderungannya lebih memilih bermain-main dengan pola dengan teknik pop cutting & transformasional reconstruction dari Jepang. Target ke depannya, harus punya butik online sendiri khusus busana ready to wear dan ingin memperdalam ilmu fesyennya di Italia. “Saya memilih “Ophium” sebagai nama brand, karena ophium merupakan candu dari Cina yang bikin orang ketagihan, Ini dimaksudkan supaya para customer juga kecanduan dengan produknya,” selorohnya riang di sela rintik-rintik hujan yang mulai turun siang itu.
Copyright © Mooi Indie - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.